Have an account?

2.07.2010

Kisah Pembunuh 99 Orang

D
alam sebuah Hadits yang diketengahkan oleh Bukhari dan Muslim secara sepakat disebutkan bahwa: dahulu di kalangan orang-orang yang sebelum kalian -yakni kaum Bani Israil- ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Lelaki ini telah berlumuran darah. Jari-jemarinya, pakaiannya, tangan, dan pedangnya, semuanya basah oleh darah, karena telah membunuh 99 orang dari kalangan orang-orang yang jiwanya terpelihara. Padahal seandainya semua penduduk bumi dan penduduk langit bersatu-padu untuk membunuh seorang lelaki muslim, tentulah Allah akan mencampakkan mereka semuanya dengan muka di bawah ke dalam neraka. Maka terlebih lagi dengan seseorang yang datang dengan pedang yang terhunus, sikap yang kejam, jahat, lagi emosi, akhirnya dia membunuh 99 orang.

35 Amal Pelebur Dosa

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(Al-Imran: 133-134)

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.(Al-Imran: 135-136)

2.06.2010

Mencari-cari Kesalahan

oleh Shidiq Sutikno

seorang anak yang suka mencari-cari kesalahan.
dengan cekatan, ia mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, maka ia menyalahkan teman dan orangtuanya.

"Aku jatuh karena Ayah meletakkan ember di sembarang tempat,"
kata anak tersebut, kepada ayahnya saat ia terjatuh di kamar mandi.

Pada suatu hari, anak itu berjalan-jalan di pinggir hutan.
Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengurumin sarangnya.
"Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku akan mengambilnya. Aku akan usir lebah-lebah itu !"
ia pun mengambil galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras.

Air Mata Menetes Tanpa Sengaja

Pengalamanku sewaktu aku Sholat subuh berjamaah di sebuah Mesjid sederhana yang diberi nama Al-Husna diBojong Pulus Banjaran Wetan - Bandung

Suatu ketika aku terbangun dipagi hari sebelum adzan subuh berkumandang, entah mengapa aku merasa bersemangat sekali ingin segera sholat subuh berjamaah dengan para jamaah yang selalu rutin sholat subuh berjamaah diMesjid Al-Husna tersebut. Setelah mata terbuka aku langsung berdoa "Alhamdulillah hilladzi ahyana ba'dama amatana wa ilaihin nusyur" lalu bergegas melakukan persiapan melakukan sholat dengan berwudhu dan memakai sarung untuk sholat.

Dinginnya subuh tidak terasa sama sekali, yang kupikirkan waktu itu adalah pahala yang didapat jika sholat berjamaah diMesjid adalah 27 harkaat dibanding sholat munfarid sendiri dirumah cuma 1 harkaat ditambah bahwa Allah menjanjikan kepada para Jamaah yang sholat subuh berjamaah diMesjid akan didekatkan dan dilancarkan rizkinya, semangatku semakin bertambah melakukan sholat subuh berjamaah diMesjid.

Ketika tiba diMesjid, aku melihat sekitar hanya para sesepuh (para orang tua) yang sering sholat subuh berjamaah dan tidak ada pemuda lain selain aku sendiri. Lalu ketika Imam mulai mengucapkan "Allahu Akbar" aku pun mulai merasakan begitu tenangnya hati ini, tidak ada hal lain yang dipikirkan selain rasa pasrah kepada Allah SWT.

Aku pun seakan merasakan para Jamaah sesepuh yang ada disekitarku ridho penuh khusyu ketika sholat. Lalu ketika posisi ruku, seolah-olah ada yang mengingatkanku, jikalau Allah menghendaki niscaya para sesepuh atau aku sendiri akan langsung dipanggil (diwafatkan) oleh Allah SWT pada waktu itu. Dan muncul pertanyaan dalam pikiranku, "Apakah jikalau aku diwafatkan pada hari itu, adakah orang yang akan menguburkanku ?" dan secara tidak sengaja air mataku menetes mengingat pertanyaan itu