Have an account?

2.17.2010

Agar Mudah Shalat Tahajjud

Susah Bangun Malam Untuk Sholat Tahajjud?

Baca Ini. . .


Bangun pada malam hari pada saat mata sedang kantuk, bukan pekerjaan ringan. Apalagi bila untuk beribadah. Pengalaman ini pernah dialami oleh seseorang yang kemudian menyanyakan kepada Hasan, “Hai Abu Sa’id, sesungguhnya saya melewati malam dengan kondisi segar bugar, saya juga telah menyediakan air untuk berwudhu.
Tapi mengapa saya sulit bangun?” Jawab Hasan, “Dosa-dosamulah yang telah mengekangmu.”


Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan, “Banyak dari makanan yang menghalangi bangun malam dan banyak dari pandangan yang menghalangi untuk membaca surat,” jelasnya.
“Makanan yang haram dan pandangan yang haram dapat menjadi sebab sulit untuk bangun malam,” tambah sang Hujjatul Islam itu.


Beberapa catatan adab di bawah ini barangkali bisa membantu memudahkan kita bangun dan istiqamah.

Balasan Meninggalkan Sholat

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis.
Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?"
Maka berkata orang muda itu, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya."
Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.s. mendapati ayah orang mudah itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam."

2.15.2010

Gua nggak butuh sholat! Buat apa sih Sholat?

Oleh : M. Febriansyah Z
 
Mohon maaf bila judulnya bikin emosi. insyaAllah isinya gak separah judulnya, itu cuman bikin penasaran aja. Saya cuman pengen berbagi, saya dapet email dari temen di sebuah milis. email itu isinya cerita begini:
Anak : Pa, solat itu buat apa sih?
Ortu : (menghardik) Udah, lu jangan tanya-tanya macem-macem.. kapir lu nanti!
Anak : (terdiam)
Belasan tahun kemudian, si anak bertemu lagi dengan saya. Mana saya tahu kalau dia dulu tunya-tanya kayak gitu kan ? Biar gampang, kita sebut aja dia Boni.
Saya : Woy, jumatan atuh.. orang-orang udah pada ngabur!
Boni : Hoream ah…. keur naon solat? (males ah, buat apa sholat?)
Saya : (untung ajah, dulu kenyang di plonco adik PAS) Dasar.. Ari kamu sholat buat apa?
Boni : Saya mah, sholat kalo butuh dong. Nggak solat kalo aku nggak merasa butuh. Solat itu harus merupakan kebutuhan, bukan kewajiban dong. Tuhan nggak butuh solat kita, yang butuh itu kita! Sekarang gua lagi nggak butuh solat, jadi buat apa gua solat. PEUN.

2.07.2010

Lelaki Itu Belajar Menyudahi Ketergesaan

Oleh Ahmad Zairofi

Lelaki itu akhirnya belajar. Bahwa ketergesaan dalam shalat itu tidak sepatutnya. Dan memang itu tidak dibenarkan. Maka dengan cara yang bijak Rasulullah mengajarinya secara praktikal. Dan selanjutnya pelajaran tentang menjauhi ketergesaan dalam meminta kepada Allah menjadi pilar penting bagi kehidupan umatnya. Selalu ada rahasia manfaat dalam cara Rasulullah menyelesaikan kesalahan sahabatnya.

Usai shalat lelaki itu menemui Rasulullah yang juga sama-sama ada di Masjid. Menyampaikan salam, Setelah itu menjawab salam, Rasulullah menegurnya.

“Kembalillah, ulangi shalat engkau. Sesungguhnya engkau shalat belum shalat.” Lelaki itu kembali shalat. Lalu menemui Rasulullah.

“Kembalilah, ulangi shalat engkau. Sesungguhnya engkau belum shalat,” pinta Rasulullah.

Ia mengulangi sholat. Lalu usai itu ia menemui Rasulullah. Tetapi Rasul memintanya mengulangi lagi. Lelaki itu akhirnya menyerah. Ia pun meminta pengarahan.

“Ya Rasulullah, demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, sesungguhnya aku tidak akan lebih baik lagi dari yang itu. Karena itu ajarilah aku.”

2.06.2010

Air Mata Menetes Tanpa Sengaja

Pengalamanku sewaktu aku Sholat subuh berjamaah di sebuah Mesjid sederhana yang diberi nama Al-Husna diBojong Pulus Banjaran Wetan - Bandung

Suatu ketika aku terbangun dipagi hari sebelum adzan subuh berkumandang, entah mengapa aku merasa bersemangat sekali ingin segera sholat subuh berjamaah dengan para jamaah yang selalu rutin sholat subuh berjamaah diMesjid Al-Husna tersebut. Setelah mata terbuka aku langsung berdoa "Alhamdulillah hilladzi ahyana ba'dama amatana wa ilaihin nusyur" lalu bergegas melakukan persiapan melakukan sholat dengan berwudhu dan memakai sarung untuk sholat.

Dinginnya subuh tidak terasa sama sekali, yang kupikirkan waktu itu adalah pahala yang didapat jika sholat berjamaah diMesjid adalah 27 harkaat dibanding sholat munfarid sendiri dirumah cuma 1 harkaat ditambah bahwa Allah menjanjikan kepada para Jamaah yang sholat subuh berjamaah diMesjid akan didekatkan dan dilancarkan rizkinya, semangatku semakin bertambah melakukan sholat subuh berjamaah diMesjid.

Ketika tiba diMesjid, aku melihat sekitar hanya para sesepuh (para orang tua) yang sering sholat subuh berjamaah dan tidak ada pemuda lain selain aku sendiri. Lalu ketika Imam mulai mengucapkan "Allahu Akbar" aku pun mulai merasakan begitu tenangnya hati ini, tidak ada hal lain yang dipikirkan selain rasa pasrah kepada Allah SWT.

Aku pun seakan merasakan para Jamaah sesepuh yang ada disekitarku ridho penuh khusyu ketika sholat. Lalu ketika posisi ruku, seolah-olah ada yang mengingatkanku, jikalau Allah menghendaki niscaya para sesepuh atau aku sendiri akan langsung dipanggil (diwafatkan) oleh Allah SWT pada waktu itu. Dan muncul pertanyaan dalam pikiranku, "Apakah jikalau aku diwafatkan pada hari itu, adakah orang yang akan menguburkanku ?" dan secara tidak sengaja air mataku menetes mengingat pertanyaan itu

Can I Pray at Your Place

oleh Ika Yuniar

Matahari sudah hampir tenggelam penanda waktu shalat Mahgrib sudah hampir tiba. Daerah Marsfield yang terletak di ujung utara Sydney sudah mulai gelap. Taksi yang aku tumpangi dari Macquarie Shopping Centre sudah memasuki halaman rumahku.

“Can I pray at your place?” * Permintaan ini datang dari supir taksi yang aku tumpangi. Permintaan itu terucap ketika ia menolongku mengeluarkan barang-barang belanjaan dari bagasi mobilnya. Bapak supir taksi yang kemudian aku ketahui berasal dari Pakistan itu rupanya mengenaliku sebagai seorang Muslimah dari kerudung yang aku pakai.