Infopalestina-Al Sahl Lish Shahafah Wal I’lam: Ini adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah sekolah putri di Palestina. Hari itu dewan sekolah berkumpul seperti biasanya. Di antara keputusan dan rekomendasi yang dikeluarkan dewan dalam pertemuan ini adalah pemeriksaan mendadak bagi siswi di dalam aula. Dan benar, dibentuklah tim khusus untuk melakukan pemeriksaan dan mulai bekerja. Sudah barang tentu, pemeriksaan dilakukan terhadap segala hal yang dilarang masuk di lingkungan sekolah seperti hand phone berkamera, foto-foto, gambar-gambar dan surat-surat cinta serta yang lainnya.
Keamanan saat itu nampak normal dan stabil, kondisinya sangat tenang. Para siswi menerima perintah ini dengan senang hati. Mulailah tim pemeriksa menjelajah semua ruangan dan aula dengan penuh percaya diri. Keluar dari satu ruangan masuk ke ruangan lainnya. Membuka tas-tas para siswi di depan mereka. Semua tas kosong kecuali berisi buku-buku, pena dan peralatan kebutuhan kuliah lainnya. Hingga akhirnya pemeriksaan selesai di seluruh ruangan kecuali satu ruangan. Di situlah bermula kejadian. Apakah sebenarnya yang terjadi ???
Labels
Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Ucapkan Salam...
2.28.2010
2.19.2010
Bagamana Mencari Kebahagiaan?
Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil tiga malaikatnya.
Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan. Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih”.
Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi dimana meletakkannya? Malaikat pertama mengusulkan, “Letakan dipuncak gunung yang tinggi”. Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju. Lalu malaikat kedua berkata, “Latakkan di dasar samudera”. Usul itupun kurang disepakati. Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.
Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan. Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih”.
Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi dimana meletakkannya? Malaikat pertama mengusulkan, “Letakan dipuncak gunung yang tinggi”. Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju. Lalu malaikat kedua berkata, “Latakkan di dasar samudera”. Usul itupun kurang disepakati. Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.
2.17.2010
Kisah Seorang Pengemis Kecil
Seorang anak laki2 buta duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terbalik di kakinya..
uutuk menampung sumbangan dari orang2 lewat. Ia menaruh sebuah karton putih dengan tulisan: "Saya buta, tolonglah saya."
Di topi itu terlihat sedikit koin. Seseorang berjalan mendekat.
Ia mengambil beberapa koin dari kantungnya & menjatuhkannya di topi itu.
Ia kemudian mengambil karton putih itu, membaliknya dan menuliskan beberapa kata...
Ia menaruh kembali karton putih itu sehingga setiap orang yg berjalan melewati anak buta itu dapat membaca kata2 barunya.
2.10.2010
Kisah Yu Timah
Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
2.08.2010
Nasi Sudah Menjadi Bubur
Saat keterlanjuran sudah berlalu, kita sering mengatakan “Nasi sudah menjadi bubur”. Betulkah ungkapan ini? Atau sekedar mencari pembenaran untuk tidak memperbaiki yang sudah ada? Insya Allah setelah membaca cerita berikut, kita akan memiliki pandangan berbeda terhadap suatu keterlanjuran.
Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.
Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.
2.06.2010
3 Hal Menikmati Hidup yang Sederhana Ini
oleh Yuki Hiro
Sering kali kita mengeluh tentang sesuatu hal yang belum kita dapat, padahal jikalau kita renungkan kembali, sesungguhnya kita di Dunia ini tidak punya sesuatu apapun melainkan semuanya milik Allah SWT, jadi untuk apa kita berkeluh kesah tentang sesuatu hal yang belum kita dapat. Tapi jikalau kita melihat lagi sekitar lingkungan sekat kita, kita harusnya bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang
Q jadi teringat dengan pengalaman pribadi Q yang menyadarkan Q tentang bersyukur dengan yang Q dapet sekarang.
Sewaktu sekolah SMK kemaren angkatan 2007 di Katapang Soreang, Q berangkat ke sekolah dengan naik angkot pertamanya, kemudian setelah beberapa lama, teman2 Q banyak yang naik motor yang dikasih orang tuanya yang berkecukupan dalam hal materi, terkadang Q berpikir klo misalnya Q punya motor ke sekolah jadi bisa cepet dan kelihatan keren, juga bisa main sulu sepulang sekolah dengan teman2.
Sering kali kita mengeluh tentang sesuatu hal yang belum kita dapat, padahal jikalau kita renungkan kembali, sesungguhnya kita di Dunia ini tidak punya sesuatu apapun melainkan semuanya milik Allah SWT, jadi untuk apa kita berkeluh kesah tentang sesuatu hal yang belum kita dapat. Tapi jikalau kita melihat lagi sekitar lingkungan sekat kita, kita harusnya bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang
Q jadi teringat dengan pengalaman pribadi Q yang menyadarkan Q tentang bersyukur dengan yang Q dapet sekarang.
Sewaktu sekolah SMK kemaren angkatan 2007 di Katapang Soreang, Q berangkat ke sekolah dengan naik angkot pertamanya, kemudian setelah beberapa lama, teman2 Q banyak yang naik motor yang dikasih orang tuanya yang berkecukupan dalam hal materi, terkadang Q berpikir klo misalnya Q punya motor ke sekolah jadi bisa cepet dan kelihatan keren, juga bisa main sulu sepulang sekolah dengan teman2.
Di Balik yang Dekat
oleh Bahtiar HS
Saya mendekati taksi biru itu. Sebenarnya saya ragu, karena Kramat Raya bukan jarak yang jauh dari Cempaka Emas, tempat saya berdiri sekarang ini. Paling 10-15 menit sudah sampai. Jarak sedekat itu tentu tidak sebanding dengan lamanya sopir taksi tersebut mangkal di tempat ini. Oleh karenanya, saya sudah bersiap untuk tidak kecewa.
Saya buka pintu belakang taksi itu.
"Kramat Raya, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, Pak!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun.
Saya mendekati taksi biru itu. Sebenarnya saya ragu, karena Kramat Raya bukan jarak yang jauh dari Cempaka Emas, tempat saya berdiri sekarang ini. Paling 10-15 menit sudah sampai. Jarak sedekat itu tentu tidak sebanding dengan lamanya sopir taksi tersebut mangkal di tempat ini. Oleh karenanya, saya sudah bersiap untuk tidak kecewa.
Saya buka pintu belakang taksi itu.
"Kramat Raya, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, Pak!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun.
2.05.2010
Si Kaya dan Si Miskin
Si Kaya dan Si Miskin...
Suatu kali seorang ayah dari keluarga yang sangat kaya mengajak puteranya berjalan-jalan ke luar kota.
Dia ingin menunjukkan padanya betapa mungkinnya kemiskinan menimpa sekelompok orang.
Mereka tinggal beberapa hari dalam sebuah peternakan milik keluarga yang sangat miskin. Saat mereka pulang kembali ke rumah, sang ayah bertanya kepada puteranya :
Suatu kali seorang ayah dari keluarga yang sangat kaya mengajak puteranya berjalan-jalan ke luar kota.
Dia ingin menunjukkan padanya betapa mungkinnya kemiskinan menimpa sekelompok orang.
Mereka tinggal beberapa hari dalam sebuah peternakan milik keluarga yang sangat miskin. Saat mereka pulang kembali ke rumah, sang ayah bertanya kepada puteranya :
Subscribe to:
Posts (Atom)
